Jurnal Praktikum Kimia Organik I Percobaan 13 “Metode Eksraksi pada Senyawa Organik”
Jurnal Praktikum Kimia Organik I Percobaan 13
“Metode Eksraksi pada Senyawa Organik”
SINTA MARLIYA
(A1C119002)
REGULER B 2019
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
Percobaan 13
I. Judul : Metode Eksraksi pada Senyawa Organik
II. Hari/Tanggal : Senin/ 17 Mei 2021
III. Tujuan : Dilakukan percoaan ini bertujuan untuk :
1. Mempelajari pemurnian sennyawa dengan cara Maserasi
IV. Landasan Teori
Ekstraksi merupakan salah satu proses pemisahan dimana pada pemisahan ini terdapat suatu zat , suatu zat yang didasarkan pada perbedaan sifat tertentu, terutama pada kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut dan berbeda. Pada umumnya ekstraksi ini dilakukan dengan cara menggunakan pelarut, dimana pelarut ini didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran, jenis pelarut yang digunakan biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Bahan yang akan diekstrak biasanya berupa bahan kering yang telah dihancurkan atau diperkecil ukurannya, biasanya berbentuk bubuk atau simplisia (Sembiring, 2007).
Salah satu teknik Ekstraksi yaitu Maserasi. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Proses Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia dalam cairan penyari. Simplisia yang digunakan jika kering dihakuskan atau diperkecilkan terlebih dahulu sebelum direndam. Pada proses ini dibutuhkan cairan untuk merendam, cairan ini biasanya dinamakan cairan penyari. Cairan penyari yang sering digunakan adalah etanol. Kerja dari Cairan penyari ini yaitu, cairan ini akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif ini akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif yang ada di dalam sel dengan yang ada di luar sel, maka dari itu larutan yang terpekat di dalamnya akan didesak keluar. Peristiwa tersebut terjadi secara berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Terdapat beberapa jenis pemisahan senyawa lainnya. Yaitu Pemisahan senyawa dengan cara destilasi , Dimana pada destilasi ini biasanya bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap cairan ini selanjutnya akan diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan yang bertujuan untuk berubah menjadi uap. Pada prosesnya, Jika suhu dinaikan, tekanan uap pada cairan akan naik sampai pada tekanan uap cairan dengan tekanan atmosfer cairan. Pada saat keadaan ini cairan akan mendidih. Ketika cairan mendidih maka Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan atmofer dimana keadaan ini dinamakan titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang tinggi pada suhu kamar akan mempunyai titik didih lebih rendah dari pada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar (Tim Laboratorium Kimia Organik, 2019).
V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
- Maserator
- Erlenmeyer
- Neraca
- Gelas ukur
- Pengaduk
- Kertas saring
5.2 Bahan
- Etanol 96%
- Kayu Secang kering
- Daun jambu biji kering
VI. Prosedur Kerja
![]() |
- Ukuran bahan diperkecil terlebih dahulu
- Simplisia ditimbang sebanyak 100 gram
- Masukkan kedalam maserator
- Masukkan 1000 ml pelarut (etanol) kedalam maserator
- Diaduk hingga homogen
- Maserator ditutup, diamkan selama 24 jam dan aduk sesekali
- Setelah 24 jam lalu disaring
- Masukkan pelarut baru sebanyak 1000 ml
- Aduk, diamkan kembali selama 24 jam dan aduk sesekali
- Setelah 24 jam lalu Disaring
-
Simpan ekstrak dalam wadah tertutup
Berikut link video yang berhubungan dengan “Metode Eksraksi pada Senyawa Organik”
Link Youtube : https://youtu.be/M05Es1LWv-Q
Pertanyaan :
1. Mengapa ukuran bahan perlu diperkecil terlebih dahulu?
2. Mengapa pelarut tidak boleh kering saat melakukan ekstraksi?
3. Mengapa pada metode ekstraksi ini larutan etanol selalu digunakan?



3 Komentar:
Saya Ahmad Rivaldi (047) akan menjawab pertanyaan no 1. karena dengan bahan yang lebih kecil akan mempermudah proses ekstraksi dan lebih mudah untuk tercampurnya bahan dengan pelarutnya yaitu antara kayu secang serta daun jambu yang akan lebih mudah tercampur dengan etanol sebagai pelarutnya
Baiklah saya Yiyin Novela dengan NIM A1C119062 akan menjawab pertanyaan nomor 3. pada metode ekstraksi ini larutan etanol selalu digunakan karena merupakan pelarut yang universal yang dapat menarik hampir sebagian besar senyawa kimia yang terkandung di dalam herba. Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan terlarut. Etanol 95% sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan pengganggu hanya skala kecil yang turut ke dalam cairan pengekstraksi, selain itu ekstrak etanol sulit ditumbuhi kapang dan kuman, dan tidak beracun.
baiklah saya dio al kautsar dengan nim a1c119039 akan menjawab pertnyaan nomor 2 pelarut tidak boleh kering saat melakukan ekstraksi karena apa bila kering ektrak yang keluar dari sampel tidak dapat keluar dan tercampur karena si pelarut tidak ada yang mana ektrasi tidak dapat dihasilkan karena pelarut kering maka di haruskan pelarut lebih banyak dari sampel supaya didapatkan hasil campurat pelarut dengan sampel yang berba hasil ektrasi dari sampel itu
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda